Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku masih kecewa dengan terjadinya sejumlah kasus penyelewengan pajak di Direktorat Jenderal Pajak. “Masih ada petugas pajak yang kejahatannya itu luar biasa, tidak pernah terbayangkan, kreatif tapi kreativitas yang keliru,” kata Yudhoyono memperingatkan, saat memberi arahan pada jajaran pejabat Dirjen Pajak dan Bea Cuki di Istana Negara, Rabu (20/07).
Presiden mengatakan kasus penyelewenangan pajak yang dilakukan sejumlah pejabat pajak membuat masyarakat menghujat institusi pemungut pajak. Hal ini, kata Presiden, “Patutlah saudara berintrospeksi.”
Presiden mengatakan minggu pertama setelah pelantikannya menjadi Presiden 2004 lalu, Dirjen Pajak menjadi satu dari empat institusi yang ia kunjungi. Saat kunjungan tersebut, kata Presiden, ia meminta dilakukan reformasi.
“Yang pertama saya kunjungi Dirjen Pajak, Dirjen Bea Cukai, Kejaksaan, dan Kepolisian. Wilayah-wilayah ini rawan godaan dan prilaku yang menyimpang. Bukan lembaganya, tapi orang seorang,” katanya.
Presiden meminta Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai terus mereformas diri. Rasa kecewa pada kedua Direktorat ini, kata Presiden, akan hilang jika keduanya tersebut kembali menunjukkan integritas.
“Banyak billboard besar bertuliskan orang bijak taat pajak, berlaku juga sesungguhnya bagi petugs pajak: petugas pajak yang bijak adalah petugas pajak yang mengelola pajak dengan baik dan benar,” katanya.
Meski begitu Presiden mengapresiasi prestasi kedua direktorat tersebut yang membuat penerimaan negara terus meningkat. “APBN 2004 misalnya total itu kurang dari Rp 500 triliun, pada 2009 sudah Rp 1000 triliun. Dua kali lipat. Kita tahu 70 persen dikotribusikan dari pajak dan cukai,” katanya.