Metro

Sandi Tak Mau Ada Yel-Yel Pendukung saat Debat Kandidat

foto

Jakarta, ToeNTAS.com,- Calon Wakil Presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno mengaku dirinya ingin memberi gagasan dan inovasi baru terkait debat antarkandidat Pilpres 2019 mendatang.

“Yang saya coba hadirkan adalah inovasi, selama ini debat itu kaya tanding bola. Adu yel-yel antara pendukung. Saling teriak. Berisik. Ini justru memunculkan perpecahan di level bawah, padahal debat kan harusnya menyampaikan gagasan kita,” kata Sandi ditemui di GOR Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (23/10).

Sandi sendiri mengaku sangat dirugikan dengan format debat yang berlaku sebelumnya. Hal itu rasakan saat dirinya mencalonkan diri menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan Anies Baswedan. Sandi mengaku dirinya bahkan tak bisa melihat pengukur waktu yang dipasang karena terhalang pendukung paslon lain.

Tak hanya itu, teriakan-teriakan nada menyindir dan mencibir atau teriakan dukungan yang kerap kali dilontarkan simpatisan pendukung yang hadir, menurut Sandi hal itu pun bukan membantu justru sebaliknya malah memperkeruh suasana dan membuat debat tidak fokus.

“Coba bayangkan nanti kalau Pak Jokowi ngomong, tepuk tangan. Pak Prabowo ngomong, tepuk tangan. Pak Ma’ruf ngomong, Allahuakbar. Saya yang ngomong, Oke Oce,” kata Sandi.

“Debat itu jadi meruncing dan saling serang menyerang kaya sepak bola. Harusnya tidak begitu debat kok kaya cerdas cermat.”

Sandi tak mempermasalahkan lokasi yang sedianya akan digunakan untuk adu visi misi antara pasangan calon ini. Menurutnya, yang penting adalah adu gagasan, adu visi, adu misi untuk membangun Indonesia.

“Biar rakyat yang menilai. Pertanyaan debat jangan didesain untuk rating tv yang siarkan, tapi untuk penilaian masyarakat,” kata Sandi.

Untuk itu, Sandi pun ingin format debat nanti melibatkan berbagai golongan masyarakat yang memang bersikap netral atau belum menyampaikan dukungannya. Atau, sambungnya, digelar dengan melibatkan organisasi-organisasi yang bersifat independen.

“Profesor dan mahasiswa boleh saja, kan bisa itu debat tidak digelar di lingkungan kampus kalau memang ada aturan yang larang. Bisa debat itu digelar di town hall. Datangkan masyarakat yang netral, profesor yang tidak nyatakan dukungan ke paslon manapun, dan bisa juga organisasi yang memang independen,” kata Sandi soal format debat presiden yang ia impikan tersebut. (cnni.c/Kris/Dul)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Situs resmi tabloid ToeNTAS yang sudah terbit lebih dari 20 tahun.

Copyright © 2017 Yayasan ToeNTAS Sakinah

To Top