Daerah

Siswa SMA Meninggal Saat MOS, KPAI Pertanyakan Pengawasan Disdik Sumsel

foto

ToeNTAS.com,- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mempertanyakan pengawasan masa orientasi siswa (MOS) yang dilakukan Dinas Pendidikan Sumatera Selatan (Disdik Sumsel). Hal tersebut terkait meninggalnya seorang siswa SMA Taruna Indonesia di Palembang, DB (14).

“KPAI akan berkoordinasi senin (15/7) dengan pihak Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah untuk meminta penjelasan dan klarifikasi. KPAI akan mempertanyakan pengawasan Dinas Pendidikan Sumatera Selatan terkait pelaksanaan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah/MOS) 2019, dan memastikan apakah juknis dan pedoman MPLS sudah diterima oleh seluruh sekolah,” kata Komisoner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, dalam keterangan tertulis, Minggu (14/7/2019).

DB diduga meninggal saat mengikuti MOS di sekolahnya pada Sabtu (13/7). Kabar meninggalnya DB diterima keluarga pada pukul 04.00 WIB dini hari kemarin. Kegiatan MOS itu disebut telah dimulai sejak Minggu (7/7).

Terkait hal tersebut Retno mengatakan ada aturan yang harus dipatuhi untuk pelaksanaan MOS di sekolah. Antara lain, batas waktu maksimal tiga hari hingga larangan penggunaan kekerasan.

“Dalam juknis tersebut pelaksanaan MPLS hanya 3 hari (bukan satu minggu) dan adanya larangan penggunaan kekerasan dalam MPLS, termasuk larangan keterlibatan penuh siswa senior,” ucap Retno.

Retno pun memnyampaikan keprihatinannya atas meninggalnya siswa tersebut. Dia mengatakan KPAI bakal berkoordinasi dengan kepolisian dalam pengusutan meninggalnya DB.

“KPAI juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian yang memproses pelaporan orang tua DBJ terkait proses pemeriksaan kasus ini,” ujarnya.

Selain soal dugaan meninggalnya siswa saat MOS di Palembang, Retno juga menyebut KPAI telah menerima pengaduan dugaan kekerasan dalam MOS atau MPLS dari salah satu orang tua siswa di salah satu SMP swasta di Jakarta.

“Dugaan kekerasan yang dilakukan adalah dalam bentuk verbal, yaitu siswa baru pada pelaksanaan MPLS hari pertama mengaku di bentak-bentak, di sebut siput, lemot, miskin karena menggunakan kantong plastik, dan ada sebutan setan. Selain itu, ada ancaman ‘mau di tampol’ jika tidak menuruti perintah siswa senior. Diduga para guru mengetahui, namun saat peristiwa kekerasan tersebut terjadi di dalam ruang kelas, tidak ada panitia guru yang mendampingi ataupun melakukan pengawasan di kelas tersebut,” ujar Retno.

Dia menyebut, berdasarkan pengaduan ke KPAI, banyak murid baru yang menangis dan mengadu ke orang tua mereka atas kejadian itu. Ada juga murid yang takut berangkat ke sekolah, takut bicara hingga takut izin ke toilet saat kegiatan MOS.

“Menurut informasi yang diterima KPAI, pada hari pertama tersebut banyak peserta didik baru menangis saat mengadu ke orang tua mereka, bahkan ada yang takut berangkat ke sekolah. Saat hari pertama, banyak siswa juga takut bicara dan takut izin ke toilet, meski ingin buang air. Akibatnya, pada hari kedua, banyak orangtua peserta didik baru yang menyampaikan protes dan keberatan kepada pihak sekolah, dan selanjutnya di MPLS hari kedua dan ketiga berjalan lancar tanpa di sertai kekerasan verbal lagi dari siswa senior,” jelasnya.

Meski pengadu tidak melanjutkan pengaduannya, KPAI tetap mengingatkan agar orang tua segera melapor ke KPAI jika ada dugaan kekerasan di sekolah dalam kegiatan MOS. Pengaduan bisa dilakukan lewat email pengaduan@kpai.go.id atau WhatsApp ke 082136772273.

Kembali ke soal DB, dia diduga meninggal saat mengikuti MOS. Keluarga pun sudah melapor ke polisi terkait peristiwa ini. Hasil forensik menyebut banyak luka memar di sekujur tubuh korban.

Hasil pemeriksaan itu disampaikan tim forensik melalui dr Indra Sakti Nasution. Indra menyebut otopsi dilakukan sesuai permintaan pihak keluarga.

“Saya tidak hitung pasti jumlahnya, tapi lumayan banyak luka di tubuh si korban. Ada luka lebam di kepala, dada sama di kaki,” ujar Indra ditemui wartawan di RS Bhayangkara, Sabtu (13/7).

Selain pemeriksaan luar, tim juga turut memeriksa tubuh di bagian dalam dan hasilnya ada pendarahan. Pendarahan akibat adanya benturan keras di bagian kepala dan dada. (d.c/M)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Situs resmi tabloid ToeNTAS yang sudah terbit lebih dari 20 tahun.

Copyright © 2017 Yayasan ToeNTAS Sakinah

To Top