Guru Ngaji di Pesantren Tinggal Bersama Keluarga di Bekas Kandang Sapi

    0
    196
    Advertisement

    Ponorogo, ToeNTAS.com,- Rumah yang layak merupakan idaman bagi sebagian orang.

    Sebab, bagi sebagian orang, dengan tinggal di rumah yang nyaman, maka hidup mereka akan menjadi lebih baik.

    Sayang, tidak semua orang beruntung bisa tinggal di rumah yang nyaman, mewah, dan megah.

    Sebab, ada juga orang-orang yang tinggal di rumah yang sederhana.
    Itu seperti yang terjadi di Ponorogo.

    Tak pernah terbayangkan dalam benak Ahmad Sutomo (41), akan mengajak istrinya Dwi Ayu Suciati (24) dan dua anaknya tinggal di bekas kandang sapi.

    Namun, kondisi ekonomi memaksanya tinggal dan hidup di gubuk bekas kandang sapi.

    Kandang sapi yang digunakan sebagai rumah oleh Ahmad Sutomo berada di RT 001/RW 002, Dusun Krajan, Desa Sendang, Kecamatan Jambon, Ponorogo

    Di tempat itulah, guru ngaji di Pondok Pesantren Mambaul Huda ini tinggal bersama istri serta dua anaknya, Muhammad Kholil Yusuf (4) dan Hinata Callei (2) tinggal.

    Rumah Sutomo berada persis di belakang rumah orangtuanya.

    Di sekitar rumah Sutomo, ditumbuhi sejumlah pohon pisang.

    Bekas kandang sapi yang “disulap” menjadi rumah ini memiliki luas sekitar 3 meter X 6 meter. Rumah yang tampak sangat sederhana itu seluruhnya konstruksinya terbuat dari kayu dan bambu.

    Begitu juga dinding rumah setinggi 1,5 meter, terbuat dari anyaman bambu atau gedek, serta tiang bambu yang tampak lapuk.

    Sementara itu, lantai rumah masih berupa tanah padat yang belum disemen.

     “Dulu di sini penuh dengan kotoran sapi, sekitar satu meter tebalnya. Tapi sudah saya bersihkan, saya cangkul,” ujarnya, Selasa (25/7/2017).

    Ia menceritakan, pada tahun 2014 istrinya mengandung anaknya yang kedua.

    Istrinya pulang ke rumah orangtuanya di Pekalongan, Jawa Tengah, dan ingin melahirkan bayi keduanya di sana.

    “2014 saya hidup sendiri bersama sapi di kandang hingga 2015. Waktu itu, istri saya pulang ke rumah orangtuanya,” katanya.

    Sebelumnya, ketika baru memiliki satu anak.

    Ia dan istrinya masih tinggal di rumah orangtuanya di Ponorogo.

    “Saat hamil kedua, istri saya ingin hidup mandiri. Kalau bisa punya rumah sendiri, apapun bentuknya,” ucapnya.

    Akhirnya ia berdisuksi dengan keluarganya dan meminta kandang sapi yang berada di belakang rumahnya untuk diperbaiki sebagai rumah.

    Saat itu orangtuanya sempat menawarkan, agar tinggal di dapur namun Sutomo menolaknya.

    Selama setahun, Sutomo sempat hidup di kandang sapi, sembari mencari pekerjaan dan mengumpulkan uang untuk memperbaiki rumahnya.

     “Nyaman nggak nyaman ya bagaimana lagi, awalnya ya tidurnya sama sapi. Kalau sapinya kencing ya krocok-krocok, sebelum dipindah di luar,” katanya.

    Berbekal uang Rp 200 ribu, ia memperbaiki kandang sapi milik orangtuanya.

    Sapi titipan yang dirawat orangtuanya dia pindahkan ke tempat yang baru.

    “Bangunan masih asli, cuma saya ganti rangka atapnya karena sudah menghitam,” jelasnya.

    Setelah kandang sapi itu diperbaiki, Sutomo mengajak istri serta dua anaknya ke rumah barunya.

    Meski sempit, namun ia mengaku bahagia karena bisa hidup mandiri berkumpul dengan keluarganya.

    Rumahnya terdiri dari satu ruangan saja , disekat menggunakan kain yang sudah usang.

    Tak ada perabot atau barang elektronik mewah di dalam rumah.

    Ruangan yang hanya bersekat kain itu, dipakai sebagai tempat tidur.

    Tampak, kasur tipis yang biasa dipakai tempat tidur istri dan dua anaknya.

    “Kasur itu, kasur bekas dikasih orang. Daripada dibuang, mending saya pakai,” kata anak bungsu dari tiga bersaudara ini.

    Kasur itu dipakai anak dan istrinya, sementara dirinya tidur di atas papan kayu yang disusun dan diberi alas kain.

    Ketika siang, rumah Sutomo tampak sangat terang, karena sinar matahari tembus melalui celah rumah. Sementara pada malam hari, .“Kalau hujan deras ya masuk ke dalam rumah, becrk semua, ” ujar Sutomo.

    Sebagai buruh serabutan yang berpenghasilan Rp 55.000 per hari, Sutomo mengaku tidak memiliki pilihan lain selain tinggal di tempat itu.

    Penghasilannya hanya cukup untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari.

    Dikatakan, tidak setiap hari ia mendapat pekerjaan.

    Sebab, biasanya ia mendapat pekerjaan ketika musim tanam ataupun masa panen.

    Sementara itu, istrinya pernah mencoba membuka usaha berjualan rujak dan gorengan.

    Namun, karena keterbatasan modal, usaha istrinya hanya bertahan selama dua bulan.

    “Mungkin karena banyam kebutuhan, dan modal terbatas akhirnya tutup,”katanya.
    Sutomo sebenarnya memiliki keinginan untuk mencoba membuat kerajinan kolor reog, untuk mengisi kekosongan ketika tidak ada pekerjaan.

    “Sekarang saya mencoba mengawali membuat kerajinan kolor reog. Taoi baru sekarang baru belajar sambil kumpul-kumpul modal,” jelasnya.

    Ia mengaku sudah meminjam uang Rp 500 ribu dari temannya.

    Uang itu rencananya ia pakai untuk membeli benang, sebagai bahan utama membuat kolor reog.

    Pria lulusan SD ini berharap mendapatkan bantuan modal untuk usaha yang ingin dia rintis. Sutomo juga berharap dapat membangun warung kecil untuk dipakai istrinya berjualan gorengan dan rujak.

    Selain menjadi buruh serabutan, Sutomo juga dipercaya menjadi guru ngaji di Pondok Pesantren Mambaul Huda di Desa Sendang.

    Namun, ia tidak mendapatkan gaji dari profesinya sebagai pengajar di Madrasah Diniyah. Hanya bisyaroh berupa parcel yang diberikan oleh pengurus pondok setiap lebaran.

    Sementara itu, istrinya Dwi Ayu Suciati, tak pernah mengeluh dan menyesali kehidupannya yang sekarang. Dwi mengaku menerima dengan ikhlas kondisi perekonomian keluarga saat ini.

    “Yang penting, bagi saya bisa hidup mandiri, hidup berkumpul bersama keluarga,” kata dia.

    Meski tinggal di kandang sapi, ia sangat bersyukur anak-anaknya jarang sakit. Ia berharap suatu saat nasib keluarganya akan berubah. (trib n.c/indah)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here