Pengamat: Debat Pilkada Solo bagai Bumi dan Langit

0
163
Kedua pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo
Kedua pasangan calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Solo
Advertisement

ToeNTAS.com,- Pengamat Politik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, Teguh Yuwono menilai debat perdana pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Solo bagai bumi dan langit. Teguh menjelaskan, berdasarkan kaca mata komunikasi politik, kedua pasangan calon menyampaikan ide dan gagasan dengan karakter yang berbeda.

Dilansir dari kompas.com, Pasangan nomor urut 1, Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakoso dinilai menyampaikan ide khas dengan gaya milenial. Sementara pasangan nomor urut 2, Bagyo Wahono-FX Suparjo menyampaikan program mereka dengan cara konvensional. “Paslon satu mewakili dari generasi milenial, dengan pengalaman-pengalaman di sektor bisnis. Sedangkan paslon dua adalah orang lama yang berkomunikasi dengan cara-cara konvensional,” jelas Teguh kepada Kompas.com, Sabtu (7/11/2020).

Pengamat dari Undip Semarang itu menyampaikan, pembawaan paslon Gibran-Teguh tampak lebih antusias menyampaikan gagasannya, khas dengan semangat anak muda. Sedangkan pasangan Bagyo-Suparjo terlihat lebih kalem dan tenang. “Kalau pembawaanya ini seperti bumi dan langit. Gibran-Teguh tampak semangat dan berapi-api. Sedangkan Bajo lebih kalem dan tenang,” ucapnya. Namun, Teguh menyoroti penguasaan materi kedua paslon.

Menurutnya, mereka masih belum spesifik kepada masalah riil yang dihadapi masyarakat Kota Solo. “Kalau dilihat dari aspek penguasaan materi, saya kira karena keduanya itu kan masih baru dan bukan petahana. Jadi belum pernah menjadi wali kota dan wakil wali kota. Masih minim penguasaan medan. Materi juga masih terlalu umum. Belum menginjak pada hal-hal yang sifatnya spesifik,” ujarnya.   Tema debat perdana juga belum fokus ke akar masalah karena masih membahas persoalan umum yang dihadapi masyarakat.

“Solo ini kan luas sekali dimensinya. Ini kan cuma bicara mengenai Solo yang modern tapi tidak meninggalkan budaya yang lama. Judul tema sama isinya masih campur-campur. Belum fokus, misalnya fokus pada pelayanan publik, fokus pada pengendalian lingkungan. Belum fokus berbicara mengenai bagaimana eksis di era seperti ini,” katanya. Ia pun menyarankan tema paslon lebih spesifik membahas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

“Saya kira akan banyak manfaatnya kalau berbicara mengenai kasus nyata ke depan. Praktik di lapangan itu kan sudah diskusi ekonomi, penanganan Covid-19, soal lingkungan, tata lahan, pendidikan, bahaya narkoba. Jadi enggak usah bicara terlalu abstrak dan teoritis. Fokus pada penataan pasar tradisional, masakan lokal, misalnya PKL, itu kan jauh lebih nyata dan jauh lebih bermanfaat untuk masyarakat kecil,” jelas Teguh.

Untuk itu, kedua paslon diharapkan dapat menggali kemampuan dan menguasai materi debat agar masyarakat yakin dalam menentukan pilihan. “Debat publik bisa menjadi referensi masyarakat dalam menentukan pilihan. Sejauh mana nanti ide dan gagasan yang paling nyata. Masyarakat tentu bisa menilai,” kata pengamat dari Undip Semarang itu. (winda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here