Demo Berbuntut Kerusuhan di Wamena, Ribuan Warga Mengungsi hingga Akses Internet Dibatasi

    0
    75
    Advertisement

    ToeNTAS.com,- Aksi unjuk rasa siswa di Kota Wamena, Papua, Senin (23/9/2019), berujung rusuh. Unjuk rasa yang berujung rusuh itu diduga dipicu oleh perkataan bernada rasial seorang guru terhadap siswanya di Wamena. Kontributor Kompas.com di Wamena, John Roy Purba melaporkan demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat.

    Wamena merupakan ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua. Kota ini merupakan satu-satunya yang terbesar di pegunungan tengah Papua. Di Wamena terdapat pusat bisnis yang saat ini dijaga ketat aparat kepolisian. Berikut fakta kerusuhan di Wamena:

    1. Suara tembakan selama 3 jam

    lustrasi tembakan Kontributor Kompas.com di Wamena, John Roy Purba, mengabarkan aparat kepolisian dan TNI berusaha memukul mundur siswa demonstran. Hal tersebut berlangsung sekitar 4 jam. Namun, siswa demonstran tetap bertahan dan kian bertindak anarkistis.

    “Suara tembakan terdengar di mana-mana selama 3 jam,” kata John. Memang dalam percakapan dengan John, terdengar suara rentetan tembakan senjata api. Menurut John, massa berusaha merangsek masuk ke pusat bisnis Wamena. Namun, mereka segera dihadang aparat kepolisian.

    2. Operasional Bandara Wamena dihentikan

    Operasional Bandara Wamena, Papua dihentikan sementara hingga batas waktu yang belum ditentukan akibat aksi demo anarkis di ibukota Kabupaten Jayawijaya. Kepala Bandara Wamena Joko Harjani mengatakan, penghentian operasional bandara dilakukan Senin (23/9/2019) sekitar pukul 10.30 WIT dengan menerbangkan tiga pesawat cargo yang sebelumnya berada di Bandara Wamena. “Saat ini sudah tidak ada pesawat di bandara,” kata Joko, seperti ditulis Antara. Dia menambahkan, bandara akan dibuka bila ada permintaan dari pihak kepolisian atau militer. Sementara itu, Kepala Bandara Sentani Anthonius Praptono mengakui dihentikannya penerbangan ke Wamena karena alasan keamanan. “Memang benar penerbangan dari dan ke Wamena sudah dihentikan sementara tanpa batas waktu yang dipastikan. Setiap harinya sekitar 20 penerbangan ke Wamena dari Bandara Sentani,” katanya kepada Antara.

    3. Massa bakar rumah warga 

    Kontributor Kompas.com di Wamena, John Roy Purba, melaporkan, demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, PLN, dan beberapa kios masyarakat. Siregar, salah satu warga Wamena, mengaku rumahnya dibakar massa. Nasib serupa dialami Silvi. Rumahnya di Jalan Putikelek, Wamena, juga hangus akibat dibakar massa. “Kami salah apa? Kenapa rumah kami dibakar,” kata Silivi. Sementara itu, sejumlah pegawai Supermarket Yuda terluka akibat melompat dari lantai dua sesaat setelah tempat bekerjanya dibakar massa. “Pegawai kami Yuda selamat. Tapi banyak di antara kami terluka karena lompat dari lantai 2,” kata salah seorang pegawai.

    4. Kantor bupati dibakar massa

    Demonstran bersikap anarkistis hingga membakar rumah warga, kantor pemerintah, dan beberapa kios masyarakat pada aksi berujung ricuh yang diduga dipicu kabar hoaks tentang seorang guru yang mengeluarkan kata-kara rasis di sekolah.Kantor bupati Jayawijaya di Kota Wamena, Papua, hangus dibakar massa dalam peristiwa kerusuhan, Senin (23/9/2019). Kontributor Kompas.com di Kota Wamena, John Roy Purba, melaporkan, Kantor Bupati Jayawijaya yang berada di Jalan Yos Sudarso itu dibakar oleh massa demonstran yang bertindak anarkistis. “Dalam pantauan kami, seluruh bangunan kantor bupati Jayawijaya hangus dibakar massa,” kata John. Selain itu, massa juga membakar rumah-rumah di jalan Homhom, Kota Wamena. Massa juga terlibat bentrok dengan aparat kepolisian dan TNI.

    5. Dipicu hoaks

    Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja memastikan bahwa alasan massa melakukan aksi anarkistis di Wamena adalah karena mereka termakan kabar tidak benar (hoaks). “Wamena minggu lalu ada isu, ada guru yang mengeluarkan kata-kata rasis sehingga sebagai bentuk solidaritas mereka melakukan aksi,” ujarnya di Jayapura. Rudolf mengklaim kepolisian sudah mengonfirmasi isu tersebut dan memastikannya tidak benar. “Guru tersebut sudah kita tanyakan dan tidak ada kalimat rasis, itu sudah kita pastikan. Jadi kami berharap masyarakat di Wamena dan di seluruh Papua tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita yang belum tentu kebenarannya,” tuturnya.

    6. Ribuan warga mengungsi

    Ribuan warga di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, mengungsi Markas Polres dan Kodim Jayawijaya pasca-kerusuhan, Senin (23/9/2019). Berdasarkan pantauan Kompas.com, setidaknya di kantor Polres Jayawijaya terdapat sekitar 3.000 pengungsi. Mereka mengungsi karena takut terjadi kerusuhan susulan. Selain itu mereka juga kehilangan rumah akibat dibakar massa. Selain di kantor polisi, warga juga mengungsi di salah satu rumah anggota polisi. Ada sekitar 100 warga yang mengungsi ke rumah itu. Salah satunya adalah Jenab Napitulu. Salah satu warga Wamena ini mengaku rumahnya habis dibakar. Ia dan keluarganya pun mengungsi ke rumah salah satu anggota polisi. Saat ini, kata Jenab, warga yang mengungsi mulai kekurangan makanan karena toko bahan makanan tutup. “Kami berharap pemerintah ataupun pihak swasta membantu kami yang kekurangan makanan. Kami juga butuh baju karena yang kami bawa cuma baju di badan saja,” kata Jenab.

    7. Akses internet dibatasi

    Kementerian Kominfo meminta operator seluler yang ada di Wamena untuk melakukan pembatasan alias throttling akses data internet di Wamena. Hal tersebut disampaikan Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo, Ferdinandus Setu melalui pesan singkat. “Pak Menteri sudah meminta operator untuk membatasi layanan data di Wamena dan sudah dilakukan oleh operator,” kata Ferdinandus. Kendati demikian ia belum merinci operator seluler mana saja yang sudah melakukan pembatasan akses. Ia pun belum menjelaskan sejak dan hingga kapan throttling ini akan dilakukan. (kom.c/John)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here