BPIP Kritik Finalis Puteri Indonesia Salah Lafalkan Pancasila

0
105
Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Romo Benny Susetyo
Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Romo Benny Susetyo
Advertisement

Jakarta, ToeNTAS.com,- Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Romo Benny Susetyo mengomentari Finalis Puteri Indonesia 2020 dari Sumatera Barat, Louise Kalista Iskandar, yang tidak berhasil melafalkan Pancasila dengan sempurna. Menurut Benny, ke depan hal ini perlu jadi perhatian khusus.

“Perlu dalam ajang finalis Puteri Indonesia dibekali materi mengenai nilai Pancasila dalam hal ini perlu ke depan diperbaiki sistem pengajaran dan nilai kebangsaan diajarkan. Dalam persiapan dan membangun karakter nilai-nilai Puteri Indonesia,” ucap Benny saat dihubungi wartawan, Sabtu (7/3/2020).

Benny belum mengetahui apakah ada sistem pendidikan dan pengajaran Pancasila di ajang Puteri Indonesia. Namun, menurutnya, penting untuk menanamkan nilai Pancasila kepada para finalis Puteri Indonesia.

“Hanya mengusulkan ke depan, dalam pengembangan kepribadian Puteri Indonesia perlu dibekali mengenai nilai-nilai keutamaan (Pancasila). (Sehingga) menjadi pioner dalam mengarusutamakan Pancasila,” kata Benny.

Benny bercerita, tidak hafal Pancasila menjadi fenomena setelah Orde Baru tumbang. Perlu upaya lebih agar generasi muda menjadi hafal Pancasila.

“Masalahnya, hampir setelah Reformasi mata pelajaran Pancasila ditiadakan. Akibatnya, generasi pasca reformasi tidak hapal lagi Pancasila. Ke dua, faktor setelah Reformasi, bagaimana pembumian Pancasila bukan model seperti Orde Baru yang doktrinal,” kata Benny.

“Tetapi, menyentuh anak zaman-nya. Dalam proses peralihan, hal seperti itu bisa terjadi karena Pancasila menjadi cara berpikir, bertindak, berperilaku, berelasi, tidak menjadi kesadaran-nya. Maka dibutuhkan sekarang, lewat peristiwa ini bagaimana Pancasila diajarkan lagi secara massif lewat pendidikan,” kata Benny.

Benny memberikan pekerjaan rumah bagi media massa dan media sosial untuk membumikan kembali Pancasila. Sehingga, Pancasila bisa tersebar dengan masif di Indonesia.

“Di sinilah peranan media massa dan media sosial untuk menghadirkan Pancasila ke ruang publik. Ruang publik tiap hari, nilai Pancasila dibatinkan dalam perilaku hidup sehari-hari. Dengan sendirinya (Pancasila) menjadi keutaman hidup, dan hal seperti itu tidak terjadi,” kata Benny.

Diketahui, momen Kalista tidak berhasil melafalkan Pancasila dengan benar itu terjadi di acara Grand Final Pemilihan Puteri Indonesia 2020 yang disiarkan langsung di SCTV. Kalista mendapat pertanyaan dari Ketua MPR Bambang Soesatyo alias Bamsoet.

“Kita beruntung memiliki Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara. Pertanyaan saya adalah, apakah Kalista hafal lima sila yang terkandung dalam Pancasila?” tanya Bamsoet.

“Terima kasih, Pak,” ucap Kalista kepada Bamsoet. Dia lalu mulai melafalkan satu per satu butir Pancasila.

“Nomor empat, kemanusiaan yang…,” ucap Kalista yang langsung disambut sorakan penonton.

Meski salah, Kalista tetap mencoba untuk menguraikan isi sila keempat. Sayangnya jawabannya tidak tepat. “Kemasyarakatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan, dalam permusyawaratan per.. masyarakat, perwakilan,” sambung dia.

Kesalahan perempuan berusia 21 tahun ini masih berlanjut saat dia melafalkan sila kelima. “Lima, kemanusiaan sosial yang adil dan beradab,” kata Kalista sembari disambut sorakan penonton.

Meski demikian, Bambang tetap mencoba memberi apresiasi kepada Kalista yang sudah mau berusaha menjawab pertanyaannya. “Terima kasih Kalista, Anda layak menang,” ucap Bambang. (det.c/r)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here