PWI Jaksel Gelar Dialog Interaktif Terkait Narkoba

Jam : 16:01 | oleh -177 Dilihat
Dialog Interaktif PWI
Dialog Interaktif PWI

JAKARTA, ToeNTAS.com.,-Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Koordinatoriat Jakarta Selatan mengadakan Dialog Interaktif terkait Narkoba dengan Pemerintah Kota Kota Administrasi Jakarta Selatan, di Hotel Griya Astoeti, di Jalan Raya Puncak, Gadog, Puncak, Minggu (23/9/2022).

Dialog interaktif bertemakan “Kolaborasi Pers dan Pemerintah Membangun Kota Jakarta Selatan Bersinar (Bersih Narkoba)” dihadiri oleh Ketua PWI Provinsi DKI Jakarta, Sayid Iskandarsyah, beserta jajarannya, Ketua PWI Jaksel, Edi Kuswanto, Ketua Badan Narkotika Nasional Kota Jakarta Selatan, Dik Dik Kusnadi, Ketua Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jakarta Selatan, Dirhamul Nugraha, Kepala Bagian Pengawas Penyidikan (Kabag Wassidik) Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, AKBP. Dr. Apollo Sinambela, S.S. S.H. M.Si. dan Anjak Madya bidang narkoba Bareskrim Polri, Kombes. Pol. Sucipta, SH, MH.

Sebelum acara dialog interaktif dimulai, PWI Jakarta Selatan, membagikan sebanyak 60 paket sembako titipan dari Bazis Baznas Jakarta Selatan kepada anggota PWI Jaksel dan 25 anak yatim setempat.

Ketua Panita Pelaksana, Nazar Husien, mengatakan, selain berbagi dan beramal dengan sesama, gelaran dialog interaktif dalam upaya meningkatkan sinergisitas antara wartawan PWI Jaksel dengan Pemerintah Kota Jakarta Selatan beserta seluruh jajaran terkait.

Dalam sambutannya Ketua PWI Koordinatoriat Jakarta Selatan, Edi Kuswanto mengatakan, PWI Jakarta Selatan sangat serius dalam berkolaborasi dengan pemerintah kota Administrasi Jakarta Selatan beserta jajarannya untuk mewujudkan Kota Jakarta Selatan Bersinar (Bersih dari Narkoba).

“Narkoba sudah sangat mengkhawatirkan dan juga mengancam generasi mudah. Oleh karena itu PWI Jakarta Selatan siap berkolaborasi aktif untuk mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba. Sebab kemajuan bangsa kedepan berada pada generasi muda saat ini,” kata Edi Kuswanto.

Dalam materinya, pembicara pertama, Ketua PWI Provinsi DKI Jakarta, Sayid Iskandarsyah mengingatkan bahwa bicara tentang narkoba berarti kita bicara bangsa. Kalau dari wartawannya tidak bersih dari narkoba, bagaimana bisa mengimplementasikan pemberitaan yang benar. Oleh karenanya, dalam memberitakan terkait kasus narkoba harus menggunakan data lengkap termasuk penulisan nama jenis narkoba baik nama sebutan Indonesianya mau pun bahasa medisnya untuk kepentingan kelengkapan pemberitaan.

Terkait narkoba, Sayid menerangkan bahwa pada kongres PWI di Solo tahun 2018 melahirkan ‘Kode Perilaku’ yang mengatur tentang perilaku wartawan. Pada Bab IV tentang Perbuatan Kriminal, di pasal 6 disebutkan Wartawan anggota PWI dilarang melakukan tindakan kriminal. Diantaranya adalah Memakai narkoba dan zat-zat adaptif atau psikotropika yang oleh perundang-undangan tidak diperbolehkan.

“Konteksnya adalah PWI sebagai organisasi pers, menjaga Anda dengan kode perilaku ini. Kalau tindakan kriminal ini dilakukan, Anda dipecat. Dan Anda tidak akan bisa lagi masuk organisasi wartawan, khususnya PWI. Intinya, PWI diseluruh Indonesia sepakat kita sebaai wartawan dilarang menggunakan narkoba dan sepakat membantu pemerintah yang membidangi tentang narkoba,” kata Sayid Iskandarsyah.

Sayid melanjutkan, organisasi PWI akan selalu mendukung BNN dalam perang melawan narkoba. Menurut Sayid, wartawan yang tergabung dalam PWI harus akurat dan secara detil untuk memberikan informasi terkait kasus narkoba. Bahkan Sayid mengatakan selain memberitakan kasus narkoba wartawan PWI juga harus bisa memberikan info edukasi keilmuan tentang bahaya dari narkoba. Sebab PWI mencintai bangsa ini mencintai anak-anak yang bertumbuh untuk masa depan.

Tak hanya itu, Sayid juga berencana akan meneruskan misi dialog interaktif ini ditingkat PWI Provinsi DKI Jakarta.

Sebagai pembicara kedua, Ketua Badan Narkotika Nasional Kota Jakarta Selatan, Dik Dik Kusnadi, presiden mengatakan Indonesia berada dalam darurat Narkoba bukan tanpa alasan. Sebab, bahaya penyalahgnaan Narkoba sangat merugikan. Tak hanya pengguna, semua pihak, termasuk keluarga dan serta orang lain disekelilingnya akan terimbas dampaknya.

Menurut Dik-Dik, ancaman narkoba sudah memprihatinkan dan amat berbahaya. Sebab semua sektor akan dihajar tanpa terkecuali, termasuk keluarga kita.

“Maka bersyukurlah bagi yang sudah pernah memakai dan sudah berhenti dan taubat. Bersyukur dalam dua hal. Pertama bersyukur karena tidak over dosis dan kedua tidak tetangkap poisi,” ujar Dik-Dik.

Dik Dik juga mengatakan bahwa BNN memiliki kebijakan bagi para pengguna yang dengan sadar mengatakan kepada BNN maka dia terbibas dari proses hukum.

“ Kepada siapa pun yang sudah ketergantungan, baik ringan, sedang mau pun yang berat. Apa bila datang dengan kesadaran ke BNN tidak akan diproses hukum dan tidak akan dipenjarakan. Mereka akan dibantu diobati secara geratis melalui rehabilitasi,” tutur Dik Dk penuh semangat.

Menurut Didk-Dik kasus narkoba sudah menjadi tugas semua pihak termasuk wartawan untuk mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkoba dan akan menjadi ladang pahala. Oleh karena itu Dik-dik meminta semua pihak saling berkolaborasi menjadikan Indonesia, khususnya wilayah Jakarta Selatan Bersinar (Bersih dari Narkoba).

Pada sesi tanya-jawab Dik-Dik berpesan kepada peserta dan seluruh masyarakat untuk melakukan tindakan pencegahan awal bila dirumah ditemukan ada salah satu anggota keluarga pengguna atau orang yang ketergantungan narkoba. Misalnya dengan menjauhakan dengan alat-alat yang berbahaya seperti pisau dan lain-lain atau benda-benda lain yang bisa membahayakan. Langkah selanjutnya adalah dengan memberikan laporan kepada BNN. Sehingga BNN bisa datang dan menjemput pengguna atau korban untuk diobati dan direhabilitasi.

Jika keluarga khawatir atau takut, maka BNN siap melakukan model, skenario atau cara lain untuk membawa korban untuk direhabilitasi dan sumber informasi akan dilindungi.

Sementara itu, Kabag Wassidik Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya, AKBP. Dr. Apollo Sinambela mengatakan dalam pemberitaan, jangan sampai wartawan PWI melakukan peran yang salah. Sebab hal tersebut bisa merusak nama organisasi. Oleh karenanya dalam mensikapi peran pemberitaan yang salah pihaknya akan melakukan konfirmasi kepada Dewan Pers, mulai dari wartawan hingga legalitas media tersebut.

Lebih lanjut Appolo mengatakan bahwa jika menangkap pengguna narkoba, aparat kepolisian merasa gagal. Sebab menurutnya para pengguna merupakan korban.

“Sebenanrnya kalau kami menagkap pengguna narkoba, kami merasa gagal. Sebab menurutnya para pengguna merupakan korban dan harus diselamatkan. Oleh karenanya kami selalu berupaya untuk menangkap bandar, pengedar, pemasok hingga kurirnya. Sebab dengan demikian diharapkan kasus penyebaran dan penyalahgunaaan narkoba tersebut bisa hilang. Apa bila ada info tentang bantar atau pengedar besar atau kecil silahkan info ke kami. Kami akan sikat habis,” tutur Appolo Sinambela.

Di waktu bersamaan, Anjak Madya bidang narkoba Bareskrim Polri, Kombes. Pol. Sucipta mengatakan selain penangkapan, Bareskrim Mabes Polri juga akan terus melakukan sejumlah penertiban. Mulai dari menerbitkan peraturan, penertiban terkait tugas wewenang hingga pemberian hukuman.

“Sepertinya hampir semua telah diterangkan Pak Appolo terkait tindakan kasus narkoba. Itulah yang memang dilakukan oleh pihak kepolisian. Namun kalau di Mabes Polri juga melakukan hal dan perangkat lain. Mulai dari menerbitkan peraturan, kode etik, penertiban terkait tugas wewenang hingga pemberian hukuman,” kata Sucipta.

Sedangkan pemateri selanjutnya, Ketua Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jakarta Selatan, Dirhamul Nugraha meminta kepada BNNK Jakarta Selatan untuk lebih meluaskan lagi jangkauan dan sasaran terkait peredaran dan penyalahgunaan Narkoba hingga kepada ke tingkat kelurahan.

Menurut Dirhamul Nugraha, pihaknya akan terus mendukung segala pergerakan perang melawan narkoba. Bahkan Dirham juga mengatakan bahwa sebanyak 600 anggota di satuan bidang-bidak kerja Kesbangpol siap dikerahkan untuk jihad melawan bahaya narkoba.

“Kasus narkoba ini merukapan kasuskejahatan luar biasa. Sehingg ita tak hanya perang melawan narkoba tetapi kita juga harus jihad melawan hingga ke akar-akanya. Selain memberikan rehabili tasi korban, BNNK Jakarta selatan juga bisa melakukan pencegahan dini hingga tingkat kelurahan. Disana ada RW, RT hingga kelompok Daawis (Dasawisma) yang bertuas mencatat mulai dari status hingga tingkat perekonomian warga masyarakat. Berikan saja edukasi kepada kelompok Dawis tentang ciri-ciri orang pemakaian atau pengguna narkoba. Jika ditemukan dan dilaporkan BNNK bisa langsung menindaklanjuti temuan tersebut,” tegas Dirhamul Nugraha.

Selain sejumlah narasumber, Dialog interaktif bertemak “Kolaborasi Pers dan Pemerintah Membangun Kota Jakarta Selatan Bersinar (Bersih Narkoba)” juga dihadiri Ketua PWI Koordinatoriat Jakarta Barat, Kornelius Naibaho, SH dan para undangan lain. *(Inge Thirta),-