Jasa Sewa Lapak Tenda Bagi PKL di Pasar Tanah Abang Tembus Jutaan

Jam : 02:00 | oleh -149 Dilihat

TANAH ABANG, ToeNTAS.com,- Lapak tenda biru merah pedagang kaki lima di Jalan Jati Baru, seberang Stasiun Tanah Abang, tak benar-benar gratis.

Seorang pedagang kaki lima berinsial D kepada wartawan mengaku mendapat lapak tenda yang disewakan warga dengan tarif Rp 3 juta.

D menuturkan, warga tersebut ber-KTP DKI Jakarta dan mendapat jatah tenda.

Ia bukan pedagang tapi mendapatkan lapak tenda dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tapi menyewakannya kepada pedagang.

“Di sini saya sewa Rp 3 juta per bulan,” ujar D kepada wartawan, Rabu (31/1/2018).

Menurut D, uang sewa lapak tenda tiap-tiap pedagang berbeda-beda.

“Kakak saya bayar Rp 4 juta sebulan,” D menambahkan.

D mengaku sebagian pedagang merasa terbebani dengan pungutan tersebut.

Meski keuntungan berjualan di bawah lapak tenda sangat menggiurkan, tak semua pedagang mau menebus harga sewa yang mahal.

“Blok G kan sepi tuh, mereka bertahan di sana dan enggak sewa tenda di sini karena uang sewa yang mahal itu,” beber D.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberikan tenda untuk mengakomodasi pedagang kaki lima yang selama ini berjualan di trotoar Jalan Jati Baru.

“Warga sekitar yang punya KTP Jakarta yang dapat tenda tapi disewakan ke PKL,” D menambahkan.

Trotoar Lebih Kece

Wacana Pemprov DKI Jakarta bakal membangun ulang Blok G Pasar Tanah Abang ditanggapi berbeda oleh para pedagang yang masih berjualan di sana.

Rencananya, selama proses pembangunan Blok G agar lebih nyaman dan representatif, para pedagang akan direlokasi sementara.

Edi, satu di antara pedagang yang masih bertahan di Blok G, mengaku pasrah jika harus direlokasi.

“Yang saya harapkan Blok G segera dibangun kembali,” kata Edi kepada wartawan kemarin.

Pedagang lainnya, Uni, menimpali omongan Edi.

“Kalau disuruh pindah ya pindah ke penampungan,” ungkap Uni.

Uni dan Edi mewakili pedagang lain sangat berharap dengan gedung baru, Blok G Pasar Tanah Abang lebih banyak menyedot pembeli datang.

“Kalau sepi seperti situasi sekarang, percuma dibangun,” kata Edi.

Tak seperti Edi dan Uni, Dasril berbeda menyikapi wacana relokasi pedagang Blok G ke tanah lapang yang katanya disediakan di samping Hotel Pharmin.

“Pindah ke samping Hotel Pharmin sama saja dengan bunuh diri,” ujar Dasril.

Ketimbang direlokasi ke tanah kosong Dasril lebih berharap mendapat lapak tenda di Jalan Jati Baru, seberang Stasiun Tanah Abang.

Dasril menduga pembeli tetap tak mau singgah ke lapak pedagang lahan baru atau tempat penampungan sementara yang Pemprov DKI Jakarta janjikan.

“Bagi saya biar sewanya mahal asalkan perputaran uangnya tinggi,” ujar Dasril.

Blok G Tersisih

Penutupan satu lajur Jalan Jati Baru untuk mengakomodasi pedagang kaki lima dengan memberikan mereka lapak tenda berdampak pada pedagang Blok G.

Yeni (48), pedagang yang masih bertahan di Blok G menuturkan jumlah pembeli sudah jauh menurun dibandingkan sebelum Jalan Jatibaru ditutup.

Sebagian pedagang yang dahulu berjualan di Blok G sudah banyak yang kembali menjadi pedagang kaki lima.

Sepinya pembeli menyebabkan omzet penjualan mereka menurun.

“Omzet saya sebulan turun drastis, dahulu saya bisa dapat sampai Rp 30 juta dalam sebulan, sekarang dapat Rp 10 juta saja sudah bersyukur,” kata Yeni.

Ia menuturkan, alasan masih bertahan karena sudah memiliki pelanggan tetap dan pemborong yang sering mencarinya di Blok G.

Sebelum berjualan di Blok G, ia adalah pedagang kaki lima dan bukan tidak mungkin akan kembali berjualan di jalan bila kondisi sepi terus berlanjut.

“Kalau sepi terus terpaksa saya kembali menjadi pedagang kaki lima, saya juga butuh uang untuk membiayai hidup,” kata dia. (trib n.c/Dhil/Dul)