ToeNTAS.com,- Pertengkaran kakak beradik sering kali dianggap sebagai bumbu dari keluarga. Namun jika terus-terusan bertengkar alias tak akur, rumah bakal jadi tak nyaman dan membuat orang tua stres.
Di masa pandemi Covid-19 ini, keluarga harus mampu membuat kakak beradik menjadi teman bermain yang akur lantaran mereka tak bisa berjumpa dengan teman sebayanya di luar rumah.
Saat perkelahian tak bisa dihindari, orang tua juga memainkan peranan penting untuk membuat anak dapat mengelola emosi dan menyelesaikan konflik dengan baik sehingga dapat akur kembali. Anak-anak juga mesti mengambil pelajaran dari konflik yang mereka lalui.
“Konflik bisa sangat konstruktif dan bermanfaat. Konflik membantu anak-anak memahami siapa mereka dan identitas mereka sendiri,” kata profesor psikologi terapan Laurie Kramer, dikutip dari CNNindonesia.com.
Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk saudara kakak beradik lebih akur.
- Bicara tatap muka
Ajak anak untuk bicara tatap muka secara personal dengan rutin. Cara ini dapat membuat anak merasa dihargai dan tidak ada persaingan antara satu sama lain.
Beri perhatian saat bicara pada anak. Puji anak jika melakukan hal baik dan tegur saat melakukan hal yang buruk.
- Tahu kapan harus ikut campur
Orang tua harus tahu kapan sebaiknya untuk ikut campur dalam hubungan kakak beradik. Ahli perkembangan keluarga Profesor Jonathan Caspi menyarankan orang tua untuk mengabaikan perkelahian sederhana. Hal ini bertujuan untuk memberi ruang pada anak menyelesaikan masalahnya sendiri.
Namun, saat anak sudah melibatkan kekerasan fisik juga kata-kata kasar, orang tua harus menengahi anak dan memberikan pemahaman untuk menyelesaikan konflik tersebut. Larang anak menggunakan kekerasan fisik dan juga kata-kata kasar.
“Penting bagi orang tua untuk menghentikan kekerasan verbal sebelum menjadi fisik. Jangan biarkan anak-anak Anda saling memanggil kata-kata makian atau istilah negatif seperti ‘gendut’, ‘bodoh’, ‘menjijikkan’, dll. Saat luka fisik sembuh, luka lisan bisa bertahan seumur hidup,” kata Caspi.
Orang tua dapat bertindak sebagai mediator untuk menyelesaikan konflik. Ajak anak duduk bersama untuk menyelesaikan masalah.
- Bersikap adil
Cobalah untuk bersikap adil dan tidak memihak kepada siapa pun saat membantu anak menyelesaikan konflik. Studi menunjukkan orang tua cenderung lebih berpihak pada anak yang lebih muda.
“Hindari kata-kata seperti ‘Kamu lebih besar, bersikap baik!’ ‘Jadilah panutan yang baik,’ atau ‘Dia masih kecil, biarkan dia memiliki mainan itu,’” kata Caspi.
- Jangan membandingkan anak
Hindari pula membandingkan anak satu sama lain. Perbandingan yang diciptakan orang tua justru sering kali menjadi pemicu konflik pada saudara kandung.
Sebaiknya, diskusikan bersama kondisi dan masalah yang sedang dihadapi secara jujur dan berikan alasan-alasan sehingga anak paham.
- Selesaikan dengan pikiran tenang
Orang tua juga harus menjaga emosi saat melihat anak bertengkar. Tenangkan pikiran untuk bisa mengambil langkah yang lebih jernih agar masalah dapat diselesaikan dengan baik dan tak ada pihak yang merasa dirugikan.
Yang paling penting, berikan kasih sayang yang merata pada anak. Ajarkan pula anak untuk saling menyayangi dan tolong menolong satu sama lain. Tumbuhkan empati pada anak sejak dini. (Oki)