KISAH Kapolsek di Pati Menyamar Jadi PSK Tangkap Mucikari, Pakai Daster Berdandan Seksi

    0
    341
    Advertisement

    PATI, ToeNTAS.com,- Laporan masyarakat tentang dugaan bisnis prostitusi yang mempekerjakan gadis di bawah umur menggugah hati nurani AKP Rochana Sulistyaningrum (50).

    Dia berupaya terjun langsung membuktikan kebenarannya.

    Kapolsek Wedarijaksa di Pati, Jawa Tengah, ini bahkan mengatur strategi sendiri.

    Dia nekat tak menginformasikan kepada anggotanya perihal rencana penyamaran melamar pekerjaan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di warung kopi Kuro-Kuro di Dukuh Rames, Desa Sukoharjo, Kecamatan Wedarijaksa.

    “Geram rasanya mendengar laporan masyarakat jika ada maksiat. Terutama yang melibatkan anak-anak. Apalagi saya punya anak dua,” tutur Rochana di ruang kerjanya, Jumat (6/10/2017).

    Sepekan sebelum penggerebekan polisi di warung kopi Kuro-Kuro, Rochana bergerak sendiri menelusuri bisnis esek-esek terselubung itu.

    Mengendarai sepeda motor, Rochana yang berpakaian preman mulai bertanya-tanya kepada warga sekitar.

    “Izinnya sih warung kopi, bagian depan bangunan digunakan untuk jualan kopi dan makanan. Warga pahamnya itu warung kopi. Pemiliknya cukup rapi mengelabui karena hanya orang tertentu yang bisa menikmati bisnis esek-eseknya itu,” kata Rochana yang empat kali mengantongi penghargaan sebagai kapolsek terbaik di Pati.

    Sehari sebelum penyergapan, wanita berhijab itu memutuskan menyaru supaya bisa bercengkerama dengan orang yang ada di dalam warung kopi Kuro-Kuro.

    Untuk memuluskan penyamaran itu, dia lantas mempercantik diri dan mengajak seorang anggotanya, Bripda Mira Indah Cahyani (21).

    “Mira, kamu jangan pulang dulu, nanti malam ada kegiatan. Tolong kamu jangan bilang anggota lain. Sore ini saya mandi di kantor dan selanjutnya antar saya ke salon,” ujar Rochana menirukan instruksinya saat itu.

    Rochana kemudian menyampaikan perihal rencana penyamaran itu kepada Mira.

    Dengan membonceng Mira mengendarai motor matik, mereka selanjutnya berangkat menuju ke sebuah salon.

    Semula kedua polwan ini merasa canggung karena harus mengubah kebiasaan dengan berdandan seksi.

    Namun, semua itu terpaksa dikesampingkan demi tugas mulia.

    “Mira sempat risih karena saya suruh berganti kaus minim dan hotpant. Begitu juga saya yang memutuskan mengenakan daster dan melepas hijab. Tapi it’s ok, inilah tugas yang harus kita emban,” jelas Rochana yang bercita-cita menjadi guru.

    “Saya minta rambut saya didandani ala kekinian. Untuk Mira harus mengenakan rambut palsu karena rambutnya pendek. Saya juga minta Mira memakai topi. Kaus, hotpant, dan topi itu milik anak saya. Kalau saya yang berdandan seperti anak muda kan lucu, saya pilih pakai daster saja,” ungkap warga Kecamatan Kota Pati itu tertawa.

    Rampung berdandan, kedua polwan tanpa berbekal senjata api (senpi) ini bergegas ke warung kopi Kuro-Kuro.

    Motor matik diparkir di depan lokasi.

    Mereka kemudian masuk ke dalam untuk mengawali aksi penyamaran.

    Keduanya mengaku sebagai sesama kerabat dengan status janda yang membutuhkan pekerjaan.

    Rochana dan Mira kemudian bergantian memelas merayu kepada seorang PSK yang ada di dalam.

    Sampai akhirnya Woro Wiranti (34), wanita pemilik bisnis prostitusi itu keluar dari kamar menemui keduanya.

    “Kami masuk warung kopi itu sehabis magrib dan sepi. Kami bertemu satu wanita berpakaian seksi. Setelah lama kami utarakan niat, wanita yang sebelumnya mengaku sebagai PSK itu memanggil bosnya,” kata Rochana yang lahir di Magelang dan besar di Purworejo itu.

    Kapolsek ini kaget bukan kepalang begitu wanita yang disebut bos keluar.

    Ternyata dia biduan dangdut yang sering dijumpai Rochana di panggung saat sedang berjaga mengamankan pentas musik.

    “Kami pernah saling menyapa dan bertatap muka. Saat itu saya hanya berdoa semoga penyamaran lancar. Alhamdulilah, dia tak mengenali saya,” imbuh Rochana yang masuk Secaba Polwan tahun 1987 itu.

    Setelah mengobrol selama beberapa jam sembari menikmati secangkir kopi, bos warung kopi Kuro-Kuro selaku mucikari akhirnya memberi kode lampu hijau.

    Keduanya diterima bekerja dengan syarat harus senantiasa berpenampilan aduhai yang mengundang syahwat lelaki.

    Rochana dan Mira diharuskan berangkat bekerja mulai pagi pukul 09.00 WIB.

    “Besok langsung kerja. Layani tamu berkaraoke. Jika minta esek-esek layani saja. Ada satu room karaoke dan dua kamar. Oh, iya, kamu jangan pakai daster lagi. Kalau siang banyak bos-bos berkumpul di sini. Ada bos ketela, bos ikan, dan bos tepung. Kalau habis magrib sudah sepi,” kata Rochana menirukan ucapan Woro saat itu.

    Sekali berkencan dengan PSK di Kuro-Kuro yang sudah beroperasi 4 bulan itu, tarifnya mulai Rp 200.000 hingga Rp 400.000, menyesuaikan usia dan fisik.

    “Meski sudah berumur, saya diperbolehkan bekerja dengan tarif Rp 50.000 sekali kencan. Katanya saya khusus untuk brondong karena brondong itu tak berduit. Kalau Mira tarifnya Rp 350.000. Dia kan muda dan bodinya bagus. Itu bosnya yang bilang,” papar Rochana.

    Setelah sepakat, kedua polwan itu langsung pulang ke Mapolsek Wedarijaksa.

    Penyamaran mereka rupanya berjalan mulus.

    Petugas piket Mapolsek Wedarijaksa saat itu bahkan sempat tak mengenali Rochana.

    AKP Rochana Sulistyaningrum
    AKP Rochana Sulistyaningrum)

    Anggota yang berjaga malam itu sempat mengusir Rochana yang hendak masuk ke kantor lantaran dikira orang gila yang berkeliaran.

    “Hai, kamu jangan masuk! Pergi atau kusiram kamu!” kata Rochana menirukan hardikan anak buahnya.

    “Enak saja mau nyiram, saya ini kapolsek kamu,” imbuh Rochana menirukan ekspresi terkejutnya ia saat itu.

    “Saat itu juga anggota saya kaget tak percaya dan mereka tertawa sendiri. Begitu pula saya,” kata Rochana yang aktif ikut kegiatan pengajian itu.

    Keesokan hari, Rabu (30/8/2017) sekitar pukul 15.30 WIB, Polsek Wedarijaksa dipimpin Rochana menggerebek warung kopi Kuro-Kuro.

    Polisi mengamankan barang bukti termasuk 3 PSK, 4 pria hidung belang, satu pasangan mesum yang terkunci rapat di kamar, dan mucikari atau pemilik warung kopi Kuro-Kuro, Woro Wiranti.

    Pelaku dijerat Pasal 296 KUHP karena mengadakan atau memudahkan perbuatan cabul dengan ancaman pidana 1 tahun 4 bulan penjara.

    “Mana Brondongnya, katanya saya mau dikasih brondong? Tanya saya kepada mucikari yang juga biduan itu. Ia hanya kaget dan meminta maaf. Saat ini proses hukum sedang berlangsung dan akan dilimpahkan ke kejaksaan. Penyelidikan tak ditemukan pekerja gadis di bawah umur,” terang Rochana. (kom.c/firman)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here