Work From Bali Salah Satu Penyebab Corona Melonjak Tinggi

0
102
Foto: Ilustrasi work from Bali
Foto: Ilustrasi work from Bali
Advertisement

Denpasar, ToeNTAS.com,- Program pemerintah work from Bali ternyata menjadi salah satu penyebab penyebaran virus Corona (COVID-19) di Bali melonjak tinggi. Setiap harinya rata-rata 50 orang di Bali terkonfirmasi COVID-19.

Dilansir dari detik.com, Data dari Satgas Penanganan COVID-19 Bali, peningkatan kasus COVID-19 sudah mulai terjadi sejak Kamis (17/6) lalu dengan catatan positif sebanyak 67 orang. Esoknya, pada Jumat (18/6) warga Bali terkonfirmasi COVID kembali bertambah menjadi 95 orang.

Lonjakan drastis terjadi pada Sabtu (19/6), dimana tercatat ada tambahan positif COVID-19 sebanyak 155 orang. Kemudian pada Minggu (20/6) kasus positif masih bertambah di tiga tigit yakni sebanyak 106 orang. Tambahan kasus positif itu juga masih terjadi pada Senin (21/6) sebanyak 91 orang.

Hingga Senin (21/6) jumlah kasus positif kumulatif mencapai 48.436 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 46.166 orang atau 95,31 persen dinyatakan sembuh, 1.536 orang atau 3,17 persen meninggal dunia. Sementara kasus aktif menjadi 734 orang atau 1,52 persen dari kasus kumulatif.

“(Kasus) Dominan disumbangkan, baik PPDN (pelaku perjalanan dalam negeri atau kunjungan turis lokal) maupun transmisi lokal dari berbagai kegiatan masyarakat. Ada liburan dan ada yang tugas dinas ke Bali,” kata Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Provinsi Bali I Made Rentin dalam pesan singkat kepada wartawan, Selasa (22/6/2021).

Selain seruan work from Bali, kunjungan kerja ASN dari luar Bali juga dinilai jadi salah satu sebab kasus COVID meningkat.

“Salah satunya (work from Bali). Salah duanya sudah banyak kunker daerah lain ke Bali,” imbuh Rentin.

Terkait dengan adanya lonjakan kasus tersebut, Rentin mengatakan bahwa pihaknya masih menunggu arahan dari Gubernur Bali Wayan Koster. Namun yang pasti ada berbagai upaya yang bakal dilakukan dalam menekan laju kasus tersebut.

“Intinya (akan ada) pengetatan pintu masuk, taat prokes dan optimalkan vaksin,” kata Rentin yang juga Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali itu.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya mengatakan belum ada temuan varian baru meskipun terjadi lonjakan kasus. Temuan baru yang sebelumnya sudah diumumkan ke publik.

“Kan dulu sudah diumumkan. Ada varian Afsel dan Inggris (pada) bulan Februari. (Saat ini) Belum (ditemukan varian baru),” terang Suarjaya.

Sementara itu, jumlah keterisian tempat tidur atau bed occupancy ratio (BOR) di Bali masih berada di bawah 50 persen. Bali tercatat mempunyai 2.169 tempat tidur pasien COVID-19. Jumlah tersebut terdiri atas 1.948 tempat tidur isolasi dan 221 tempat tidur intensive care unit (ICU).

Per Selasa (22/6), dari 1.948 tempat tidur isolasi telah terisi sebanyak 416 atau 21,36 persen. Sementara dari 221 tempat tidur ICU yang ada, hingga kini terisi sebanyak 57 atau 25,79 persen.

Kemenkes Akan Evaluasi Program Work From Bali

Melonjaknya kasus COVID-19 di Bali secara drastis membuat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan mengevaluasi program work from Bali.

“Nanti kita evaluasi sesuai perkembangan kasus yang terjadi. Kan ini sangat dinamis sekali, tentu evaluasi itu nanti akan kita tentukan pada saat nanti. Terus kita evaluasi,” kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar, Jumat (18/6).

Dante mengatakan, pihaknya terus meminta agar Bali dalam keadaan baik. Sebab, cakupan vaksinasi COVID-19 di Pulau Dewata paling tinggi di Indonesia. Angka kejadian COVID-19 juga sudah rendah.

“Kita harapkan ini menjadi salah satu bagian daru wilayah Indonesia coverage untuk kejadian COVID-nya. Mudah-mudahan ini bisa terjaga dengan menerapkan protokol kesehatan. Semoga Bali bisa terjaga dengan baik, kita akan terus mengevaluasi perkembangan-perkembangan yang terus dinamis belakang ini,” kata Dante. (Mega)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here