7 Nyawa Melayang Gegara Perlintasan Kereta Diterjang

    0
    92
    Advertisement

    Jakarta, ToeNTAS.com,- Sebanyak tujuh orang tewas akibat kecelakaan yang melibatkan sebuah mobil dengan KA Argo Parahyangan di Cibitung, Bekasi. Polisi mengungkapkan kecelakaan tersebut terjadi karena sopir mobil menerobos pintu perlintasan kereta.

    Peristiwa itu terjadi di pintu perlintasan kereta api Kampung Utan RT 003/004, Desa Wanasari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, Sabtu (21/12/2019) pukul 22.19 WIB. Polisi juga menyebut sopir sudah diperingatkan untuk bersabar, namun tak dihiraukan.

    “Kendaraan Daihatsu tersebut menerobos pintu perlintasan KA dan tertabrak KA Argo Parahyangan Bandung-Jakarta yang melintas dari arah timur ke barat hingga terseret sejauh 30 meter. Mengakibatkan pengemudi dan enam orang penumpang kendaraan Daihatsu Sigra nomor polisi B-1778-FZI meninggal dunia dan dibawa ke RSUD Kabupaten Bekasi serta kendaraannya mengalami kerusakan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus dalam keterangan tertulis, Minggu (22/12).

    Setelah ditelusuri, para korban tewas ternyata memiliki hubungan keluarga satu dengan lainnya. Kecelakaan tersebut terjadi saat para korban dalam perjalanan pulang.

    Salah seorang pihak keluarga, Firmansyah menyebut tiga dari tujuh korban tewas merupakan kakaknya. Ketiganya yakni Martinah, Syarifudin, dan Bahrudin.

    “Saya, delapan (bersaudara),” kata Firmansyah di rumah duka, Jalan Arjuna III, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (22/12).

    Selain Martinah, Syarifudin, dan Bahrudin, dua korban lainnya, yaitu Santi dan Yanda. Keduanya merupakan pasangan suami-istri.

    Santi adalah anak Martinah. Suami Martnah, Yanto juga menjadi korban tewas dalam kecelakaan tersebut.

    “Iya (Santi anaknya Martinah). Mereka (Santi dan Yanda) belum punya anak. Udah lama nikah cuma belum punya anak,” ungkap Firmansyah.

    Satu korban lagi adalah Didit. Dia merupakan putra Bahrudin.

    Sebelum kecelakaan, para korban lebih dulu menjenguk Firmansyah di Cibitung. Menurut Firmansyah, para korban memang pulang saat malam hari dari kediamannya.

    “Itu, pukul 17.00 WIB mereka telepon (mau ke rumah saya). Sampe sana (rumah saya) pukul 20.00 WIB, udah sampe. Pukul 21.30 WIB pulang. Ya udah kejadiannya di rel Bitung itu,” jelasnya.

    Firmansyah mengaku sempat menyarankan agar kakak-kakaknya itu bermalam di rumahnya. Namun, Martinah bersikeras ingin pulang.

    “Saya bilang, ‘jangan pulang dulu’, karena di sana kan keadaannya macet kalau sore-sore. Kalau mau malam, malam sekalian, sepi. Cuma, ya Martinah nggak mau, katanya pulang aja, ‘ujan, mau ujan’, gitu. Jadi dua kali bilang ujan. Dua kali saya tahan, ya udah dia pulang,” cerita Firmansyah.

    Para korban baru dimakamkan pada Minggu (22/12) siang. Lima korban, yaitu Martinah, Yanto, Bahrudin, Syarifudin, dan Didit dimakamkan di TPU Kemiri, Jalan Rawamangun Muka Raya, Jakarta Timur. Sementara Santi dan Yanda dikebumikan di kawasan Pondok Ranggon. (det.c/N)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here