Ahok Sentil Kinerja Gibran-Jokowi, TPN Ganjar: Tidak Ada Arahan

Jam : 08:05 | oleh -92 Dilihat
Ahok dan Ahokers dukung Ganjar-Mahfud
Ahok dan Ahokers dukung Ganjar-Mahfud

Solo, ToeNTAS.com,- Politikus PDIP Basuki Tjahaja Purnama (BTP) atau Ahok membuat heboh dengan pernyataannya yang menyinggung soal kinerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka. Terkait dengan pernyataan tersebut Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud memastikan tak ada arahan.

Dikutip Wartawan, Rabu (7/2/2024) Ketua Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud, Arsjad Rasjid, mengaku tak ada arahan soal pernyataan tersebut. Dia menilai pernyataan itu dari hati Ahok.

“Tidak ada arahan-arahan. Pak Ahok is pak Ahok, itulah beliau. Dan kami tetap menghormati apa yang diberikan, tapi kami selalu balik lagi, itu bukan dorongan dari kami, tapi mungkin itu dari hati dan energinya Pak Ahok yang besar sekali,” kata Arsjad pada wartawan di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (7/2).

Mengenai sikap Ahok, Arsjad mengaku, tak merasa khawatir. Ia pun membebaskan pendukung Ganjar-Mahfud untuk berekspresi dan mengeluarkan energinya untuk kepentingan demokrasi.

“Buat kami, semua orang kan ingin menyuarakan. Semua ingin mengeluarkan energi mereka, ya itu namanya demokrasi. Itulah acara orang berbeda-beda,” ujarnya.

Aktivis 98 Kritik Ahok
Ucapan Ahok ini mendapatkan kritikan dari sejumlah pihak. Salah satunya dari aktivis 1998 Rahmat Hidayat Pulungan. Rahmat mengaku ironi sebab Ahok telah banyak mendapat privilege dari Jokowi.

“Ahok ini orang yang paling banyak mendapat privilege selama Jokowi berkuasa mulai dari Gubernur DKI sampai menjabat presiden. Di ujung kekuasaannya Jokowi, Ahok mulai serang Jokowi secara sporadis. Kayaknya di mata Ahok itu Jokowi nggak ada benarnya,” kata Rahmat kepada wartawan, Rabu (7/2).

Rahmat menilai Ahok kurang berkaca. Menurutnya, Ahok seperti orang yang memakan soto dan berteriak tidak enak saat sudah habis.

“Ahok ini satu aja kurangnya, kurang ngaca. Seolah-olah kebenaran hanya milik dia. Ibarat orang makan soto, sudah habis 2 mangkok tinggal tulang, baru teriak-teriak sotonya kurang enak,” ujarnya.

Rahmat lantas mengatakan Ahok tidak memiliki keistimewaan. Saat memimpin Jakarta pun, Rahmat menyebut Ahok lebih banyak gimik.

“Ahok itu biasa aja, tidak istimewa. Selama jadi gubernur mulai ngurus negara sampai rumah tangga lebih banyak gimik daripada subtansinya. Lebih banyak dramanya. Waktu dia maju Gubernur DKI kalau tidak ada Jokowi paling 3% yang milih dia,” ucapnya.

Seperti diketahui, video Ahok bertanya soal kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka viral di media sosial (medsos). Politikus PDIP menjelaskan maksud perkataan Ahok tersebut.

Dalam video viral seperti dilihat pada Rabu (7/2), seorang ibu menyampaikan anggota keluarganya memilih pasangan nomor urut 2 Prabowo-Gibran. Ahok kemudian menjelaskan tidak ingin memilih presiden yang tidak sehat, emosional, dan tidak bisa kerja, Ahok khawatir jika tiba-tiba Gibran yang naik jabatan.

“Lagi pula kita khawatir kalau tiba-tiba Gibran yang naik,” kata Ahok di atas panggung dengan latar gambar pasangan nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud Md.

Menurut ibu tersebut, justru bagus jika Gibran yang naik jabatan. Namun, Ahok mempertanyakan bukti Gibran bisa kerja sekaligus menyinggung soal Jokowi dianggap bisa kerja.

“Tapi presiden kalau cuma 2 tahun, karakter teruji kalau ada kekuasaan. Sekarang saya mau tanya, di mana ada bukti Gibran bisa kerja selama wali kota? Terus ibu kira Pak Jokowi juga bisa kerja?” ujar Ahok.

Ahok dalam video tersebut sesungguhnya enggan bicara hal itu dalam forum terbuka. Namun, menurutnya tak adil jika memilih presiden tak berdasarkan kemampuan kerja.

“Nah makanya kita bisa berdebat itu, saya lebih tahu, makanya saya nggak enak ngomong depan umum. Tapi kalau ibu mau pilih Pak Prabowo pun itu hak ibu. Tapi saya mau sampaikan juga, tidak fair kalau kita pilih presiden bukan berdasarkan kemampuan kerja,” ucap Ahok.

Penjelasan PDIP soal Maksud Sentilan Ahok
Sementara itu, politikus PDIP Ima Mahdiah menjelaskan maksud ucapan Ahok ‘di mana bukti Gibran bisa kerja’. Menurut Ima, rekam jejak Gibran belum teruji selama menjabat.

“Yang dimaksud oleh Pak Ahok adalah Gibran itu baru menjadi wali kota selama kurang dari 4 tahun saja. Tanpa pengalaman legislatif, dan pengalaman eksekutif yang baru seumur jagung, sekarang berlaga di pilpres, sehingga rekam jejaknya masih sangat minim untuk memimpin 230 juta rakyat Indonesia,” ujar Ima kepada wartawan.

Ucapan Ahok, menurut Ima, senada dengan pernyataan Jokowi pada tahun lalu. Yakni pernyataan Jokowi soal Gibran baru menjabat di Solo sehingga belum tepat maju sebagai cawapres.

“Hal ini senada dengan komentar Pak Jokowi pada Mei 2023 lalu yang bilang bahwa saat itu Gibran masih 2 tahun jadi wali kota sehingga tidak logis jika dicalonkan sebagai calon wakil presiden. Kira-kira seperti itu maksud perkataan Pak Ahok yang saya tangkap,” imbuhnya. (d.c/Wahyu)