Tak Banyak yang Tahu, Tantrum yang Dialami Anak Ternyata Baik untuk Kesehatan Emosionalnya

0
206
foto
foto
Advertisement

ToeNTAS.com,- Melihat anak marah, menjerit-jerit, atau menangis, mungkin menjadi pemandangan sehari-hari orangtua.

Ya, tantrum memang suatu hal yang wajar dialami oleh anak, terutama balita.

Meski hal tersebut terbilang wajar, tapi nyatanya banyak orangtua yang justru kesal setiap kali melihat anaknya tantrum.

Padahal, ketika anak marah-marah, hal itu sebenarnya bisa menjadi kesempatan bagi Moms untuk belajar lebih tenang menghadapi Si Kecil.

Tak hanya itu, tantrum pada balita juga merupakan bagian penting dalam kesehatan emosional anak lo, Moms.

Melansir dari Kompas.com, berikut ini adalah alasan mengapa tantrum sebenarnya memiliki manfaat positif:

1. Lebih baik dikeluarkan

Air mata mengandung kortisol, hormon stres.

Selain itu, air mata juga diketahui menurunkan tekanan arah dan memperbaiki mood.

Sehingga saat Si Kecil menangis, secara tidak langsung ia sedang melepaskan stres dari tubuh.

Coba Moms perhatikan, sehabis menangis mood anak biasanya lebih baik.

Oleh sebab itu, Moms sebaiknya jangan menghalangi anak yang sedang tantrum, agar ia bisa memproses perasaannya.

2. Anak merasa nyaman mengungkapkan perasaannya

Walau menghadapi anak yang tantrum sering dianggap menyebalkan, tapi tantrum sebenarnya adalah ‘hadiah’ lo, Moms.

Pada kebanyakan kasus, tantrum merupakan ekspresi anak terhadap perkataan atau perbuatan orangtuanya yang mungkin menyakitinya.

Maka dari itu, biarkanlah Si Kecil mengalami tantrum agar ia bisa melepaskan frustasinya.

Setelah itu, baru lah Moms perlahan-lahan mengajarkannya untuk mengutarakan perasaannya dengan lebih baik, bukan dengan marah-marah.

3. Membuat lebih dekat

Pernahkah Moms perhatikan, ketika anak sedang mengamuk dan meminta orangtuanya pergi, sebenarnya ia sangat menghargai jika Moms tetap berada di sampingnya, lo.

Tidak perlu mengucapkan banyak kata untuk menghibur, cukup sampaikan beberapa kata namun yang bisa membuatnya tenang.

Hindari kata-kata kasar atau melakukan kekerasan fisik agar ia kembali tenang.

Dengan demikian, anak akan merasa dirinya diterima apa adanya sekaligus membuatnya lebih dekat dengan orangtuanya.

4. Mengatur emosi

Terkadang emosi anak keluar dalam berbagai cara, misalnya agresi, sulit berbagi, atau menolak melakukan kegiatan yang sederhana.

Hal-hal tersebut bisa jadi tanda Si Kecil kesulitan mengatur emosinya lo, Moms.

Oleh karena itu, dengan mengalami ledakan emosi seperti tantrum, dapat membantu anak melepaskan perasaan sehingga ia pun bisa memahami dirinya sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here