Untuk Tangani Covid-19 Depok Minta Tambahan Tenaga Medis

0
121
Ilustrasi tenaga kesehatan, tenaga medis, pekerja medis.
Ilustrasi tenaga kesehatan, tenaga medis, pekerja medis.
Advertisement

DEPOK, ToeNTAS.com,- Pemerintah Kota Depok melalui dinas kesehatan mengaku telah mengajukan permintaan tambahan tenaga medis ke berbagai organisasi profesi guna menghadapi lonjakan pasien Covid-19 di rumah-rumah sakit rujukan.

“Kami bekerja sama dengan organisasi profesi, meminta bantuan untuk tenaga-tenaga yang bisa dipekerjakan. Dari PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) kami minta, dari IDI (Ikatan Dokter Indonesia) kami minta,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok Novarita kepada wartawan, Jumat (18/9/2020). Permintaan tambahan tenaga medis ini berkaitan dengan semakin penuhnya rumah sakit rujukan Covid-19 di Depok.

Dilansir dari Kompas.com, Ketua Satgas Covid-19 IDI Depok Alif Noeriyanto Rahman mengatakan bahwa pihaknya butuh waktu untuk mendata dokter yang tersedia. “Memang kita harus siapkan tenaga medis yang sebanyak mungkin ketika itu terjadi (rumah sakit penuh dan butuh menambah tempat tidur),” ujar Alif kepada wartawan, pekan lalu. “Kita harus punya angka riil dokter yang bekerja di Depok ada berapa orang.

Ada 3.000 dokter (di data IDI Depok), tapi itu kita tidak bisa tahu, apakah semuanya praktik di sini atau ada yang hanya tinggal di sini tetapi tidak praktik di sini. Harus kita data ulang,” jelasnya. Data hingga kemarin, keterisian 19 rumah sakit rujukan Covid-19 di Depok sudah nyaris mencapai 80 persen.

Kapasitas tempat tidur pasien Covid-19 bergejala ringan sudah terisi 153 dari 229 tempat tidur (66,81 persen). Kapasitas tempat tidur pasien Covid-19 bergejala ringan sudah terisi 147 dari 185 tempat tidur (79,46 persen). Kapasitas tempat tidur pasien Covid-19 bergejala berat sudah terisi 24 dari 32 tempat tidur (75 persen).

Lalu, keadaan darurat ditemui pada okupansi ICU khusus Covid-19 yang telah terisi 24 dari kapasitas 25 tempat tidur (96 persen). Novarita mengatakan, pihaknya juga tengah meminta rumah-rumah sakit di Depok supaya segera menambah kapasitas tempat tidur penanganan pasien Covid-19.

“Enggak semudah itu juga rumah sakit menambah (tempat tidur pasien Covid-19). Menambah tempat tidur saja, jika SDM-nya tidak ada, sulit. Misalnya di RS Universitas Indonesia, ada alat untuk ICU banyak, tapi SDM kurang,” ujar dia. Ia menargetkan, bulan ini, usulan tambahan tenaga medis untuk menghadapi pandemi di Depok bisa rampung bulan ini.

Sementara usulan itu sedang diproses, Depok praktis berharap pada beberapa rumah sakit di wilayah tetangga yakni Bekasi dan Bogor untuk merujuk pasien Covid-19 yang tak dapat ditampung di dalam kota. “Kemarin kami sudah kirim (pasien Covid-19) ke Cibinong. Kalau mereka ada tempat, kami bisa kirim,” kata Novarita.

“Ini masih proses (usulan tambahan tenaga medis). Harus disiapkan, siapa yang SIP (surat izin praktik) dan STR (surat tanda registrasi). Paling tidak, September ini sudah bisa,” pungkasnya. Kota Depok hingga kini masih berstatus zona merah, sekaligus wilayah dengan total laporan kasus positif Covid-19 tertinggi di Jawa Barat dan wilayah Bodetabek, berdasarkan laman resmi masing-masing pemerintah kota/kabupaten.

Hingga data diperbarui semalam, Kamis (17/9/2020), total ada 3.107 kasus positif Covid-19 yang sudah dilaporkan Pemerintah Kota Depok. Sebanyak 2.132 di antaranya dinyatakan pulih, sedangkan 110 lainnya meninggal dunia. Lonjakan pesat kasus aktif Covid-19 di Depok terjadi sejak awal Agustus 2020.

Hingga kini, ada 865 pasien positif Covid-19 yang sedang ditangani di Depok, berdasarkan laporan Pemerintah Kota Depok. Hal ini membuat Kota Depok kini menghadapi isu keterisian rumah sakit rujukan Covid-19 yang semakin mendekati penuh. (ek)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here